Novel
NOVEL
Diary Of August
Part 1
Angin meniup-niup apa pun yang dilaluinya,menerbangkan dedaunan kering yang meranggas karena musim gugur telah tiba. Malam ini,seperti malam-malam sebelumnya di asrama Harvetown perbatasan Kota Madrid,gelap dan mencekam.
Seorang remaja laki-laki duduk memangku buku harian yang belepotan tanah dan darah di bangku taman belakang asrama.Rasa takut tampak jelas dibola matanya. “Harus kuapakan buku ini?!”
Dia Alex suaranya bergetar. Dia emutuskan bangkit dan berjalan menuju gedung utama asrama putra jalannya mengendap-endap.
Kamar Alex berada di lantai 4 nomor 10,lantai teratas.Lampu koridornya redup dan mungkin sebentar lagi padam.selama Alex dan keempat temannya menghuni kamar tersebut,dia belum pernah menemui pengalaman supranatural,seperti yang selama ini diceritakan para seniornya di lantai 4.
Asrama Harvetown dan Harvetown Senior High School sudah ada sekitar 2 abad lalu. Banyak cerita mengerikan terjadi di sini,misalnya seorang guru musik yang di bantai pada agustus 1895. Menurut rumor,arwah guru wanita itu masih gentayangan. “kamu dari mana? Ini hampir tengah malam dan kamu masih keluyuran!”sambar Nico,begitu Alex masuk kamar.”kamu cerewet seperti perempuan. Sudahlah,tidur sana,”balas Alex dengan kesal.
Alex naik ke tempat tidur. Dia berniat membaca buku konyol yang ditemukannya di pepustakaan bawah tanah tadi siang. Dengan bantuan cahaya senter,Alex membolak-balik buku itu. Isinya aneh. Seperti catatanharian,tetapi sulit dipahami.Masih banyak halaman yang kosong dengan halaman terakhir berhenti pada 29 Agustus 1895.
Elisabeth Tan 29 Agustus 1996
“Siapa Elisabeth Tan?” Alex semakin larut dalam setiap kalimat yang tertulis. Dia mengabaikan peringatan yang menggunakan darah pada halaman pertama.
Ini rahasia terbesarku. Jangan dibaca. Atau,teror dan malapetaka akan mengikutimu. *Ginny Adelaide Tan.
Hari ini,selepas pelajaran matematika,Alex ada kelas bahasa inggris. Sayangnya,Alex tidak memiliki jadwal yang sama dengan kelima sahabat dekatnya,Nicco, Genevieve,Kimberly,Luca,dan Jonas. Mereka mengambil kelas lain.
Untuk mencaoai kelas bahasa Spanyol, Alex harus melewati sebuah lorong dengan lampu-lampu redup yang nyaris rusak. Mitos mengatakan, tidak boleh melewati lorong itu sendirian atau dalam rombongan ganjil.
Alex menghela nafas panjang. Koridor sepi. Tidak ada siswa yang dapat dia ajak melewati lorong itu bersama-sama.
“itu hanyalah mitos” Alex meyakinkan diri, seraya melangkah hati-hati melewati lorong. “semua akan baik-baik saja.”
“Seperti yang kamu mau ....”
Alex membalikan tubuh dengan cepat. Seseorang seperti berbicara kepadanya, namun tidak ada siapa pun.
“Fur Elise,” desis Alex terkejut, ketika dia nyaris mencapai ruang musik. “ Astaga ..!”
Alex membeku. Jantungnya berpacu cepat. Pada saat itulah, Alex melihat sosok wanita berambut pirang sedang memainkan piano diujung lorong. Wanita itu mengenakan gaun putih pucat dengan bercak-bercak darah.
“Kembalikan!” Wanita itu menghentikan permainan piano nya dan menoleh kepada Alex. Tatapan nya tajam. Melayang. Tatapan mata hijau zambrudnya membunuh.
“Khe...khe...khe...” Wanita itu menyeringai, kelopak matanya mengucurkan cairan berwarna merah.
Saat Alex mengerjap, wanita itu hilang dari hadapannnya untuk sementara.
“Khe...khe...khe...” Sebuah tangan berkuku panjang dan runcing menyayat leher Alex perlahan-lahan.
Lalu, semuanya GELAP.
Part 2
“Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu bisa pingsan seperti ini?” tanya Genevieve sambil meletakkan lap basah ke kening Alex. “Ada luka di lehermu. Kubersihkan, ya,” kata Luca. Alex sudah berada di ruang kesehatan entah siapa yang membawa nya kesini.
“Dicakar kucing?” tanya Nicco. “Untung, ada kak Maverick dan Sir Lorenzo yang menemukanmu.”
“Apa kalian bisa melihat dan mendengarnya? Semua menyeramkan! Tidak masuk akal. Hanya ada ketakutan.”gumam Alex tiba-tiba. Genevieve,Nicco,Kimberly,Luca,dan Jonas berpandangan dengan heran.
“Kamu bicara apa?tanya Genevieve
Alex terpana.”Mitos di lorong itu nyata. Wanita itu benar-benar ada!.
Semua sahabatnya mengernyitkan dahi tidak mengerti. ”Tampaknya kamu kelelahan Alex,” simpul Genevieve. Alex mengacak ngacak rambutnya, frustasi. Karena tidak ada yang mengerti perkataan Alex.
“Kamu harus beristirahat. Kurasa, kamu memang kurang tidur. Kami keluar ya. Jam istirahat sudah berakhir,” ujar Kimberly sambil mengambil buku-bukunya. “Sepulang sekolah nanti kami akan menjemputmu,” Luca menutup obrolan.
Alex berdiri di depan cermin pakaiannya dan Nicco. Dia sedang merapikan letak dasinya.Awalnya,tidak ada yang aneh dari cermin besar itu. Namun, perlahan-lahan ada yang muncul kabut putih yang menutupi bayangan Alex. Kabut putih itu membentuk sosok wanita berambut pirang panjang, bermata hijau zambrud, menggunakan gaun putih lengkap dengan percikan darah.
“Kembalikan,” katanya.
Jantung Alex berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di pelipis nya. Seluruh tubuhnya membeku.Inilah sensasi yang dirasakannya saat berada di lorong sendirian kemarin.
Wanita dalam cermin itu menatap tajam, seolah menuntut Alex mengembalikan sesuatu yang amat berharga baginya. Alex tidak mengerti.
“Alex! Cepatlah,kita hampir terlambat ke kelas!”
Itu suara Nicco!
Kabut mulai menipis dan Alex mulai dapat bergerak lagi.
“kembalikan...”
Tubuh Alex terjatuh,saat kabut itu perlahan lahan lenyap dalam cermin, seolah-olah ada yang mendorong tubuh Alex dari depan. Alex tidak memahami apa yang baru saja terjadi padanya.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak?” tanya Nicco yang telah berjongkok di sebelah Alex. Alex menatap cermin yang masih ada di hadapannya,dan dia masih kebingungan.
“Kenapa kamu berteriak?” kali ini,ganti Jonas yang bertanya kepada Alex.
“Di cermin tadi... ada kabut.. dan bayangan ..wanita berambut panjag.. bergaun putih,” Alex menjawab pertanyaan Jonas dengan tatapan kosong dan Alex benar-benar linglung.
Dan dicermin itu, tentu saja tidak ada kabut ataupun wanita berambut pirang yang mengenakan gaun putih. Semuanya tampak normal.
“Tidak ada kabut disana,” kata Luca
“Kamu sedang berfantasi aneh lagi,ya?” sindir Nicco.
Alex merasa menjadi orang aneh di antara kelima sahabatnya. Jelas-jelas, tadi ada kabut dan memang benar Alex melihatnya dan Alex juga melihat sosok perempuan,tapi kenapa kelima sahabatnya tidak ada yang melihat apa ynag dilihatnya? Kenapa wanita itu hanya menampakkan diri di depan Alex?
Part 3
Pada saat bersamaan, Alex melihat sosok wanita bergaun putih muncul di dekat tempat tidur Simon. Wanita itu memperhatikan dirinya,bukan kelima sahabatnya. Tatapan mata wanita itu masih sama seperti sebelumnya.
“Alex ayo,cepat! Kita hampir terlambat ke kelas, nih”Nicco mengulurkan tangan kanan kepada Alex. Alex menatap lagi ke arah tempat tidur Simon. Bayangan wanita itu menghilang. Sebelum Alex meninggalkan kamarnya, Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar dan kembali tersentak.
Ternyata wanita itu tidak pergi.Ia berada di atas tempat tidur Alex. Ya, wanita bergaun putih itu duduk di tempat tidur Alex dengan anggun...? Tidak,bukan anggun, melainkan mengerikan.
Alex tidak berkonsentrasi saat penjelasa guru sejarah, Sir Andrea. Dia sedang memikirkan wanita bergaun putih yang muncul akhir akhir ini.
Tuk...tuk...tuk...
Alex mengalihkan pandangan ke jendela. Matanya menangkap seekor burung gagak berbulu hitam sedang mengetuk-ngetukkan paruhnya di permukaan kaca. Aneh rasanya melihat seekor burung gagak berkeliaran di sekolah ini.
“kembalikan ...”
“Hah?!” Alex terkesiap. Burung gagak itu berbicara padanya
“Kamu lihat burung gagak yang ada di sana? Tanya Alex kepada Luca yang berada di sebelahnya,sambil menunjuk ke arah jendela
Luca memperhatikan arah yang ditunjuk Alex. Dahi Luca berkerut-kerut karena tidak bisa melihat apa yang katakan oleh Alex.
“Kamu mengigau? Disana tidak ada apa-apa”
“Aku tidak mengigau. Benar-benar ada disana,Luca. Burung itu menatap lalu berbicara padaku,” Alex menjelaskan sambil terus menunjuk-nunjuk ke arah jendela.
“Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Kerjakan pekerjaan rumah kalian dari halaman dua puluh satu sampai dua puluh tiga. Terima kasih dan selamat beristirahat.”
Lamunan Alex buyar, saat suara sir Andrea menggema ke seluruh pelosok kelas.Dia pun segera memasukkan buku-buku nya kedalam tas.
Aaa kerreennš
BalasHapus